Sampai sekarang selalu ada perdebatan tentang isi konten di Netflix yang tidak
sesuai dengan penonton Indonesia. Sepertinya masih pada belum paham apa itu
Netflix, apa kontennya, bagaimana sensornya, bagaimana filtering -nya. Coba
saya jelaskan.
Apa itu Netflix
Pertama, Netflix itu apa. Netflix pada awalnya adalah layanan yang menyewakan
DVD melayani layanan surat. Lalu Netflix menambah layanan streaming dimana
seperti stasiun TV yang menyiarkan film, serial atau apapun yang dihasilkan
oleh Production House. Tapi, beda dengan TV biasa, Netflix ‘bersiaran’ di
internet. Ngga pakai antena, ngga pakai kabel, ngga pakai satelit. Saat ini
fokus Netflix dilayanan streaming dan sukses mempunyai Production House
sendiri yang memproduksi serial/film.
Oke, sudah dapat gambaran Netflix seperti apa?
Sensor Netflix
Apakah Netflix ada sensor? pastinya. Tapi sesuai dengan sensor yang berlaku
umum di US walau sekarang juga sudah disesuaikan dengan sensor di Indonesia,
dimana tergantung rating yang diberikan pada setiap film atau serial. Jadi
bukan berarti karena bisa ditonton semua umur maka film dengan adegan
kekerasan banyak di sensor. Bukan seperti itu.
Ada batas-batas tertentu setiap film dan serial jika ingin bisa ditonton semua
umur, bila tidak ya cukup ambil batasan umur yang sudah dewasa, alias
mature. Dimana kekerasan, seks, bisa diterima. Kalau untuk batasan umur
balita atau remaja ya seperti itu tidak akan ditayangkan.
Movies and TV:
Little Kids ~ All
Older Kids ~ 7+
Teens ~13+
Adults ~16+
Netflix tidak seperti TV teritorial yang bisa diakses semua orang, sudah ada
batasan-batasan bahkan sejak mendaftar Netflix.
Batasan Netflix
Pada awal daftar Netflix mensyaratkan alamat email. Seperti Google ada batasan
minimal usia untuk bisa mendapatkan alamat email.
Below are the minimum age requirements to own a Google Account:
United States: 13 or older
Spain: 14 or older
South Korea: 14 or older
Netherlands: 16 or older
All other countries: 13 or older
Begitu pula untuk akun email lainnya. Jadi minimal untuk bisa daftar diatas 13
tahun.
Lalu setelah menggunakan alamat email bakal ada batasan harus menggunakan
kartu kredit. Misal untuk Bank Mandiri adalah minimal berusia 21 tahun dan
mempunyai penghasilan 3 juta per-bulan untuk kartu utama dan 17 tahun untuk
kartu tambahan
Sampai disini terlihat sangat selektif untuk orang bisa mendaftar Netflix.
Berarti dia harus berumur 17 tahun bila belum mempunyai pekerjaan dengan
penghasilan ikut kartu utama, atau berusia 21 tahun bila sudah mempunyai
pekerjaan.
Lembaga Sensor Film (LSF) pun didesak untuk melakukan menggolongkan seperti
ini. Seperti dikutip dari halaman ‘Peraturan’ di
web Lembaga Sensor Film:
tidak ada gunting sensor lagi dan hanya mengklasifikasi usia
penonton/pemirsa, misalnya untuk semua umur, remaja dan dewasa.
Itu memang butuh waktu, untuk saat ini LSF menggolongkan kan sensor film
menjadi:
(1) Film dan iklan film yang sudah selesai disensor digolongkan ke dalam
usia penonton film sebagai berikut:
a. untuk penonton semua umur;
b. untuk penonton usia 13 (tiga belas) tahun atau lebih;
c. untuk penonton usia 17 (tujuh belas) tahun atau lebih; dan
d. untuk penonton usia 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.
Jadi pembagian konten Netflix sudah sesuai dengan penggolongan di LSF kan?
Pengaturan Konten di Netflix
Di dalam Netflix sendiri pengaturan konten ini sangat mudah. Tinggal masuk ke
bagian ‘Pengaturan Akun - Profil & Kontrol Orang Tua’.

Kontrol lebih bisa diterapkan dengan penggunaan akun masing-masing. Untuk
pengguna dewasa dan anak-anak/remaja.


Disini bila salah masuk user pun akan memerlukan PIN yang tadi di-set pada
parental control. Jadi walaupun salah akun tetap tidak bisa akses film atau
konten yang tidak sesuai.


Sampai disini Netflix terlihat cukup aman kan? Bagaimana dibandingkan dengan
konten di televisi yang bisa dilihat oleh siapa saja, atau di Youtube yang
juga bisa diakses dengan mudahnya.
“Wah, namanya anak bisa aja dengan bagaimana cangihnya anak sekarang dia
bisa melihat konten dewasa”
Ya itu salah orang tua-nya. Bukan Netflix-nya.
Bagaimana cara orang tua melakukan kontrol terhadap anak, bagaimana melindungi
anak dari hal-hal seperti itu. Bagaimana orang tua lebih canggih dari anaknya.
Banyak cara kok. Asal mau tahu dan belajar.
Jadi, masih salah Netflixnya? Ada komentar atau masukan? silahkan lewat
komentar dibawah, discord devilpenakut atau
lewat twitter.