SS TRAVELINK: Pendopo on The Road
Super Eksekutif Rasa Santai, Jakarta – Jogja Tanpa Drama

Ada yang bilang, pulang ke Jogja itu bukan cuma soal tiba, tapi soal perjalanan. Kali ini saya buktikan sendiri naik SS Travelink Jakarta – Jogja Super Eksekutif. Bukan sekadar karena kursinya yang 1-2 (bukan 2-2 yang suka bikin bahu senggol-senggolan), tapi juga karena kesan bersih, lega, dan jadwal yang pas buat orang kantoran yang baru kelar kerja.

Berangkat dari Pondok Pinang, lokasi yang strategis banget buat penumpang dari selatan Jakarta. Turun MRT di Lebak Bulus, lanjut ojol, dan voila – udah sampai pool. Hari itu, jadwalnya pukul 18.00, tapi sekitar jam 14.00 agen sudah WA, memastikan semua siap. Sore harinya, jam 17.00 ada reminder lagi, mungkin karena besoknya libur Idul Adha, mereka pengen gaspol lebih cepat biar ngga kejebak macet parah. Benar saja, 17.40 bus sudah berangkat.


Masuk ke interior, langsung terasa vibe yang berbeda. Perpaduan warna biru, abu-abu, dan coklat bikin adem. Selimut tebal dan bantal kepala sudah nunggu di kursi, siap menemani perjalanan panjang. Konfigurasi kursi 2-1 ini juara, super eksekutif sejati. Kursinya punya leg rest, walau hanya satu bagian, cukup nyaman untuk selonjoran. Yang unik, bus ini tidak punya bagasi di atas kursi. Barang bawaan bisa ditaruh di bagasi bawah atau di area kaki, jadi langit-langit terasa lebih lapang, bikin kabin berasa lega.
Begitu roda mulai bergulir, kru langsung menawarkan pilihan menu makan malam yang nanti akan disajikan di rumah makan. Bus sempat beberapa kali berhenti untuk naik-turun penumpang di Pasar Rebo, Jatiasih, Bekasi Timur, dan Cikarang sekitar pukul 20.50. Setelah itu, perjalanan mulai mulus begitu masuk tol Trans Jawa.

Sekitar pukul 23.43, bus masuk ke Rumah Makan Rosin Subang. Di sini makan malam disajikan sesuai menu yang kita pilih sebelumnya. Tempatnya satu area dengan Rosalia Indah, jadi atmosfernya cukup ramai dengan penumpang dari berbagai PO. Selesai makan, saya sempat keluar melihat busnya lebih dekat. Body Tentrem Avante H7 single glass-nya terlihat elegan, dengan livery silver minimalis dan ikon pendopo di sisi bodi. Velg Alcoa Ultra One yang dipakainya bikin bus ini makin premium.


Setelah istirahat, bus melanjutkan perjalanan dengan ritme yang santai tapi mantap. Nyetirnya halus, suspensi empuk, dan nyaris tak ada bunyi-bunyian "kriat-kriet" yang biasanya bikin kepala gatel. Bus keluar di Banyumanik sekitar pukul 04.44 untuk isi solar di SPBU Perintis Kemerdekaan, lalu lanjut lagi masuk tol. Ada satu-dua penumpang yang turun di Semarang atau Bawen, kemudian bus kembali masuk tol di Bawen. Setelah itu keluar lagi di Salatiga untuk mampir Terminal Tingkir, lanjut tol hingga Kartosuro, baru kemudian jalan biasa menuju Yogyakarta.
Menariknya, alih-alih ke Giwangan dulu seperti beberapa review yang saya baca, bus ini belok ke Jombor lebih dulu. Saya turun di Jombor pukul 07.51 – memang agak siang, tapi mengingat lalu lintas mudik Idul Adha yang padat, saya anggap wajar.

Dengan harga tiket Rp360 ribu (sedikit naik dari normal Rp330 ribu), pengalaman ini terasa sepadan. Nyaman, bersih, dan tepat waktu. Plus, pengalaman 2-1 seat yang bikin perjalanan ini berasa privat. SS Travelink benar-benar menghadirkan rasa “pendopo di jalan” – tenang, lapang, dan elegan. Kalau kamu tipe yang suka perjalanan santai tapi tetap pengen nyampe pagi di Jogja, ini pilihan yang wajib dicoba.
Perjalanan panjang ini jadi reminder bahwa naik bus bisa lebih dari sekadar transportasi – bisa jadi pengalaman. SS Travelink bikin perjalanan saya seperti disuguhkan pemandangan Jawa dengan irama yang pas. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu santai. Rasanya seperti Jogja sendiri: adem, kalem, dan bikin nagih untuk diulang.

