J-Walk Jogja, menyiksa

Pendukung suksesnya mall adalah lokasi dan tenant yang mengisi. Ketika kedua itu tidak optimal maka mall itu biasanya tidak optimal juga. Nah bagaimana kalau lokasi dan tenant tidak ada yang mengisi? Mati.

Itu yang terjadi di J-Walk. Salah satu mall yang sangat berusaha untuk bisa hidup di kota Jogja yang sudah penuh dengan mall. Apalagi di Jogja ada mall yang mempopulerkan sebagai mall terbesar di DIY dan Jawa Tengah, Hartono Mall.

Dianggap mempunyai lokasi bagus sebagai pusat mahasiswa (ada dua tempat kuliah besar Universitas Atma Jaya dan STIE YKPN) J-Walk diharapkan sebagai pusat hiburan untuk anak-anak mahasiswa. Tapi apa daya tenant belum tertarik untuk masuk ke sana.

Jaringan bioskop CGV Blitz yang pertama masuk ke situ sebagai trigger keramaian. Aneh, biasanya sebagai trigger mall adalah pusat perbelanjaan atau hypermarket. Namun mungkin J-Walk belum menarik dua tenant yang biasanya menyewa ruangan besar dan menarik pengunjung itu. Oke, mungkin J-Walk benar-benar menyasar pasar untuk anak muda sehingga tenant perbelanjaan dan hypermarket dianggap terlalu ‘tua’.

Namun kemudian J-Walk membuat masalah baru.

Lift ini, cuma bisa mengantar pengunjung yang kebanyakan menuju Blitz sebagai trigger keramaian hanya sampai lantai dasar. Iya, Blitz masih 3 lantai lagi. J-Walk memaksa pengunjung untuk naik elevator yang kemungkinan untuk lebih bisa ‘memperkenalkan’ tenant lain.

Tujuan yang mulia bagi tenant dan J-Walk namun menyiksa bagi pengunjung. Elevator yang berjalan itu terletak di bagian timur, sedang lift berada di bagian tengah, elevator terakhir ke lantai Blitz adalah di sebelah barat dan Blitz sendiri di bagian timur.

Jadi alur pengunjung kalau lewat lift adalah keluar lift, jalan ke arah timur, naik elevator 2 lantai, jalan ke arah barat, naik ke lantai 3 lalu jalan lagi ke arah timur. Berasa muter-muter nya ngga?

Kalau lift itu bisa sampai lantai 3 pengunjung hanya tinggal keluar lift lalu jalan ke arah timur. Simpel kan?

Menurut saya J-Walk harusnya tidak berambisi dulu dengan mengisi tenant besar. Namun bisa dengan mengisi jajanan-jajanan anak muda yang mengundang keramaian dan membuat mall itu hidup.

Ada bagian mall yang terbuka yang sebenarnya menarik untuk dijadikan tempat berkumpulnya anak-anak mahasiswa/i. Tempat tenant yang belum terisi bisa lebih dipromosikan untuk diisi tenant sementara seperti yang dilakukan oleh Lippo Plaza. Mungkin juga bisa memasukkan pedagang kaki lima ke dalam mall namun dengan konsep tertata.

Cara-cara lebih manusiawi bisa menarik lebih banyak pengunjung daripada menyiksanya.

Read more