# J-Walk Jogja, menyiksa


Pendukung suksesnya mall adalah lokasi dan _tenant_ yang mengisi. Ketika kedua
itu tidak optimal maka mall itu biasanya tidak optimal juga. Nah bagaimana
kalau lokasi dan _tenant_ tidak ada yang mengisi? Mati.

Itu yang terjadi di J-Walk. Salah satu mall yang sangat berusaha untuk bisa
hidup di kota Jogja yang sudah penuh dengan mall. Apalagi di Jogja ada mall
yang mempopulerkan sebagai mall terbesar di DIY dan Jawa Tengah, Hartono Mall.

Dianggap mempunyai lokasi bagus sebagai pusat mahasiswa (ada dua tempat kuliah
besar Universitas Atma Jaya dan STIE YKPN) J-Walk diharapkan sebagai pusat
hiburan untuk anak-anak mahasiswa. Tapi apa daya tenant belum tertarik untuk
masuk ke sana.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1730254933836/3d2ebe5a-c57b-4fc2-b3d8-9232e0cb1e25.jpeg)

Jaringan bioskop CGV Blitz yang pertama masuk ke situ sebagai _trigger_
keramaian. Aneh, biasanya sebagai _trigger_ mall adalah pusat perbelanjaan
atau _hypermarket_. Namun mungkin J-Walk belum menarik dua _tenant_ yang
biasanya menyewa ruangan besar dan menarik pengunjung itu. Oke, mungkin J-Walk
benar-benar menyasar pasar untuk anak muda sehingga _tenant_ perbelanjaan dan
_hypermarket_ dianggap terlalu ‘tua’.

Namun kemudian J-Walk membuat masalah baru.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1730254935160/8bf5551e-925c-4256-84c3-93b58fd67043.jpeg)

Lift ini, cuma bisa mengantar pengunjung yang kebanyakan menuju Blitz sebagai
_trigger_ keramaian hanya sampai lantai dasar. Iya, Blitz masih 3 lantai lagi.
J-Walk memaksa pengunjung untuk naik elevator yang kemungkinan untuk lebih
bisa ‘memperkenalkan’ _tenant_ lain.

Tujuan yang mulia bagi _tenant_ dan J-Walk namun menyiksa bagi pengunjung.
Elevator yang berjalan itu terletak di bagian timur, sedang lift berada di
bagian tengah, elevator terakhir ke lantai Blitz adalah di sebelah barat dan
Blitz sendiri di bagian timur.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1730254936596/415f8d3f-7add-4482-a1d3-0193293945c9.jpeg)

Jadi alur pengunjung kalau lewat lift adalah keluar lift, jalan ke arah timur,
naik elevator 2 lantai, jalan ke arah barat, naik ke lantai 3 lalu jalan lagi
ke arah timur. Berasa _muter-muter_ nya ngga?

Kalau lift itu bisa sampai lantai 3 pengunjung hanya tinggal keluar lift lalu
jalan ke arah timur. Simpel kan?

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1730254938279/bea0ac41-7d5f-4b84-9d5c-5b1e4173d7b0.jpeg)

Menurut saya J-Walk harusnya tidak berambisi dulu dengan mengisi _tenant_
besar. Namun bisa dengan mengisi jajanan-jajanan anak muda yang mengundang
keramaian dan membuat mall itu hidup.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1730254940185/eaf199df-4360-4697-9b2c-a9a4b1e6d3fd.jpeg)

Ada bagian mall yang terbuka yang sebenarnya menarik untuk dijadikan tempat
berkumpulnya anak-anak mahasiswa/i. Tempat tenant yang belum terisi bisa lebih
dipromosikan untuk diisi tenant sementara seperti yang dilakukan oleh Lippo
Plaza. Mungkin juga bisa memasukkan pedagang kaki lima ke dalam mall namun
dengan konsep tertata.

Cara-cara lebih manusiawi bisa menarik lebih banyak pengunjung daripada
menyiksanya.



